Rambutan Tangkue, Si Manis Dari Maja

Rambutan Tangkue bagi sebagian penikmat buah lokal mungkin sudah tak asing lagi. Tapi siapa sangka kalau buah rambutan berkwalitas super itu berasal dari Maja, Lebak, Banten. Terus terang, admin sendiri yang memang bukan orang Maja asli, baru tahu kalau Rambutan Tangkue itu ternyata memang dari Maja.

rambutan tangkue
sumber: republika

Kebetulan saja beberapa hari lalu admin membeli buah rambutan dari pedagang buah keliling di Bekasi. Waktu itu admin tertarik untuk membeli karena warna kulitnya yang merah merona.

Seperti biasa, sebelum membeli admin mencicipinya terlebih dulu. Setelah mengupas kulitnya, terlihat daging buahnya yang putih bening dan sedikit berair. Begitu dimakan, wuih.. rasanya benar-benar legit.. dagingnya mudah terkelupas dan terasa lebih kenyal. Pokoknya super deh..

“Ini memang bukan rambutan biasa bu, tapi rambutan Tangkue dari Maja, Banten” ujar si abang penjual rambutan berkumis tebal itu sambil menghisap rokoknya.

“Oh rambutan Tangkue, kirain rambutan Aceh” jawab admin setengah tidak percaya. Dalam hati masak iya sih, koq baru dengar ya.. he he..

Karena kwalitasnya yang memang di atas rata-rata, admin pun langsung membayar tiga ikat rambutan yang dibandrol dengan harga Rp. 20.000 per ikat itu. Relatif lebih mahal dari rambutan biasa memang, tapi itu masih wajar karena rasanya sangat memuaskan.

Ciri-ciri Rambutan Tangkue

Sesampai di rumah, sambil menikmati si manis dari Maja, admin pun iseng-iseng searching di Google dengan keyword: “rambutan tangkue”. Ternyata si abang kumis baplang itu memang benar.

Nah buat kamu yang belum pernah makan buah rambutan Tangkue, berikut ciri-ciri khasnya:

  • Buah yang sudah matang, warna kulitnya merah tua
  • Bentuknya agak lonjong
  • Rambutnya sedikit lebih panjang
  • Daging buahnya mudah dikelupas seperti rambutan Aceh
  • Rasanya lebih manis

Morfologi & Klasifikasi Rambutan

Setelah Googling ke mana-mana, sayangnya sulit sekali menemukan sumber referensi yang valid mengenai morfologi rambutan Tangkue. Bahkan pada situs Wikipedia pun artikel tentang rambutan super dari Maja ini belum lengkap informasinya

Morfologi Rambutan

Menurut situs fredykurniawan.com, berikut adalah morfologi tumbuhan rambutan secara umum:

Tanaman rambutan tergolong tanaman yang berbunga banyak. Bunga berbentuk bunga jantan atau bunga sempurna yang tersusun atas dalam satu malai bunga atau panicula . Tanaman ini memiliki ketinggian 12 25 meter. Batang bulat atau tidak beratur, berwarna kecoklatan dan tidak rata dan memiliki diameter 40-60 cm.

Daun tanaman rambutan majemuk dengan daun 5-9, berbentuk bulat telur atau oval, ujung dan pangkal runcing, tepi rat, pertulangan menyirip, tangkai silindris, berwarna hijau dan kuning jika terkena hama dan penyakit yang menyerang.

Klasifikasi Rambutan

  • Kingdom : Plantae
  • Subkingdom : Tracheobionta
  • Super Divisi : Spermatophyta
  • Divis : Magnoliophyta
  • Kelas : Magnoliosida
  • Sub Kelas : Rosidae
  • Ordo : Sapindes
  • Famili : Sapindaceae
  • Genus : Nephelium
  • Spesies : Nephelium lappaceum L.

Dibalik Nama Rambutan Tangkue

Berdasarkan informasi dari situs resmi Balai Litbang Kementrian Pertanian, ternyata nama rambutan Tangkue berasal dari bahasa China yang artinya “manisan”. Hal itu sangat sesuai dengan rasanya yang memang manis dan legit ya guys.

Budi Daya Rambutan Tangkue

Selain di wilayah Kecamatan Maja, Rambutan Tangkue juga banyak ditemukan di Curugbitung, Sajira, dan Rangkas Bitung. Sebagai salah satu varietas buah unggulan lokal, rambutan Tangkue tentu perlu dilestarikan. Salah satu UK/UPT di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Tim Sumber Daya Genetik (SDG) BPTP Banten berhasil menemukan pohon induk pertama Rambutan Tangkue di Desa Pasir Kacapi, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak.

Selain di daerah asalnya pohon induk turunan Rambutan Tangkue juga terdapat di Kecamatan Leuwidamar. Sebagai salah satu upaya pelestarian, TIM SDG BPTP Banten yang bertugas melakukan inventarisasi kekayaan SDG Lokal Banten memelihara Rambutan Tangkue ini di kebun koleksinya.

Varietas Lokal Unggulan Banten

Di samping upaya tersebut, Rambutan Tangkue juga didaftarkannya oleh Pemda Provinsi Banten melalui BPSB-TPH ke PPVTPP sebagai rambutan lokal unggulan Banten. Sejalan dengan Pemda Provinsi Banten, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak turut mendaftarkan varietas tersebut ke Kemenkumham agar tercatat secara geografis sebagai rambutan asal Lebak, Banten. BPTP Balitbangtan Banten mendukung upaya pendaftaran Indikasi Geografis ini untuk mengamankan plasma nutfah lokal Banten.

Buah ini memiliki ciri berwarna merah tua saat sudah masak dan terkenal dengan rasanya yang manis dan kenyal, buahnya besar dengan daging buah yang tebal, serta cenderung kering saat dimakan. Rambutan berbuah setiap tahun, dengan musim panen antara bulan November hingga bulan Februari.

Kandungan Gizi Rambutan Tangkue

Selain dikonsumsi secara langsung, rambutan dapat diolah menjadi manisan, buah dalam kaleng, serta campuran koktail. Tidak hanya rasanya yang lezat, kandungan gizi yang terdapat pada buah satu ini patut bertengger manis di meja makan. Selain vitamin C yang baik untuk kesehatan tubuh dan kecantikan, buah rambutan juga mengandung niacin, thiamin, dan riboflavin yang berperan penting dalam metanolisme tubuh.

Kandungan lain yang terdapat pada daging buah rambutan diantaranya adalah kalium, kalsium, besi, dan fosfor. Tidak hanya daging buahnya, bijinya pun ternyata dapat dimanfaatkan. Mengutip ub.ac.id, di Filipina, biji buah rambutan biasanya dipanggang dan disajikan sebagai lauk. Bahkan, kulit buahnya pun dapat digunakan sebagai obat sebagai penghambat bakteri pada tubuh manusia.

Saat panen tiba, Si Manis dari Lebak Banten ini diminati tidak hanya oleh konsumen dalam negeri, namun telah menjangkau sebagian pasar Eropa, Asia, dan Timur tengah. Sampai sekarang, ekspor terbanyak dikirim ke Kuwait, Abu Dhabi, dan Oman (Sumber: Dinas Pertanian Banten).

Rambutan Tangkue Dalam Berita

Petani di Lebak Raup Keuntungan dari Panen Buah Rambutan
buah rambutan tangkue
sumber: litbang.pertanian.go.id

Sejumlah petani di Kabupaten Lebak, Banten meraup keuntungan panen buah rambutan tangkue. Pohon rambutan dijual hingga ditampung di atas pohon oleh tengkulak seharga Rp 1 juta per pohon.

“Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi dengan tibanya musim panen rambutan itu,” kata Usman (55) seorang petani warga Desa Curugbitung Kabupaten Lebak, Jumat (21/2).

Panen buah rambutan tahun ini sangat menguntungkan, karena buahnya per pohon cukup banyak dibandingkan tahun lalu. Pendapatan hasil panen rambutan itu tentu dapat menggulirkan pertumbuhan ekonomi masyarakat mulai petani, buruh pemanjat pohon, buruh mengikat rambutan hingga pengemudi.

Sumber: Republika

Berburu Si Legit Rambutan Khas Lebak

Rambutan tangkue menjadi primadona di pasaran saat musimnya telah tiba. Bagi pecinta buah lokal, tidak ada salahnya untuk berburu rambutan tangkue dari lokasi asalnya di Kabupaten Lebak.

Terdapat tiga kecamatan yang menjadi sentra produksi rambutan tangkue yakni Maja, Curugbitung dan Sajira. Ketiganya berada di Kabupaten Lebak yang mudah dijangkau menggunakan commuter line dari Jakarta.

Kasi Produksi Hortikultura, Biofarmaka dan Tanaman Hias, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Irwan Riyadi mengatakan, saat ini baru saja dimulai musim panen rambutan tangkue.

Sebaran pohonnya terpusat di tiga kecamatan tersebut, dan bisa menjadi tujuan wisata untuk berburu rambutan segar langsung petik dari pohonnya. Soal rasa, rambutan ini tidak perlu diragukan lagi, lantaran terkenal manis dan berbeda dengan jenis rambutan lain.

Jenis rambutan ini juga sudah tercatat di Kementerian Pertanian sebagai rambutan varietas unggul dari Provinsi Banten. Untuk pengunjung yang ingin memetik langsung tangkue di pohonnya, Irwan mengatakan bisa berkunjung ke perkebunan tangkue di Maja, Curugbitung

Sumber: regional.kompas.com

Share informasi ini dengan menyalin tautan pendek bit.ly/rambutantangkue